Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Monday, September 16, 2013

Sekilas Tentang Sejarah Makanan BACANG atau BAKCANG

BACANG adalah makanan yang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Dalam acara-acara pesta sering kali makanan bacang menjadi bagian dari isi snack yang dibagikan panitia. Bukan hanya itu, bacang juga kini sudah menjadi komoditas makanan yang diperjual-belikan oleh sebagian orang di sekitar kita. 

Meski sebetulnya nama bakcang sendiri merupakan nama asing dari nama-nama makanan di sekitar kita, karena sudah dikenalnya, sering kali kita tidak mempertanyakan apa makna dari nama itu. Kita tidak asing dengan nama bala-bala (karena komposisinya bermacam-macam dan terlihat sembrawut/bala), cilok (aci dicolok), cireng (aci digoreng), gehu (toge dalam tahu), batagor (baso tahu goreng), dan lain-lainnya, karena memang nama-nama makanan itu kebanyakan adalah singkatan dari bahasa kita. Namun apakah arti BACANG? Apakah artinya adalah BAso kaCANG? Ternyata bukan. Karena BACANG bukan baso dan di dalamnya pun tidak ada kacang.

Selidik punya selidik ternyata makanan BACANG ini mempunyai sejarah yang panjang dan sangat erat sekali hubungannya dengan kepercayaan suatu agama.

Jika bacang di kita isinya berupa nasi (semacam ketupat) yang di dalamnya berisi daging cingcang, maka BACANG yang aslinya adalah nasi yang dibungkus dengan daun bambu atau anjuang (di sunda namanya pohon Hanjuang), serta isinya adalah daging babi yang dicincang. Lalu kenapa bungkus yang digunakan harus pakai daun bambu atau anjuang? Berikut akan saya coba paparkan sejarahnya.

Bacang adalah merupakan makanan dari dataran Cina, tepatnya dari negeri Chou (atau Zhou), dengan nama asli "Ba Cang". Dan bacang erat kaitannya dengan sejarah kerajaan Chou, yakni sejarah antara mentri Khut Gwan (Wikipedia Indonesia dan artikel-artikel lain menyebutnya Qu Yuan) dengan sang rajanya. Mentri Khut Gwan merupakan mentri yang suka menasehati rajanya, namun sering kali nasihatnya diabaikan oleh sang raja. Bahkan suatu saat Khut Gwan malah difitnah yang menyebabkan dirinya dipecat dari kedudukan mentrinya oleh sang raja. Peristiwa pemecatan dan pengabaian nasihatnya kemungkinan besar menjadi faktor utama dirinya menjadi prustasi.

Mentri Khut Gwan akhirnya melakukan upaya bunuh diri dengan menjatukan diri ke sungai (konon nama sungainya adalah Miluo) sambil memeluk batu besar yang mengakibatkan dirinya tenggelam dan meninggal. 

Raja Chou menginsafi kekeliruannya dan menyesal. Dia kemudian menyuruh orang-orang untuk mencari mayatnya. Namun usaha yang dilakukan gagal. Mayat Khut Gwan tidak ditemukan. Penyesalan sang raja Chou kemudian mendorongnya untuk melakukan ritual permohonan maaf dengan menghanyutkan makanan ke sungai tempat Khut Gwan menceburkan diri. Namun makanan itu setiap kali baru dihanyutkan langsung habis dimakan ikan. Namun pada suatu malam, konon roh Khut Gwan datang dalam mimpi dan berpesan agar makanan itu dibungkus dengan daun anjuang dan daun bambu. Saran dalam mimpi itu kemudian dituruti. Dibuatnya nasi dengan isian daging babi dan dibungkusnya dengan daun anjuang dan daun bambu. Makanan itu kemudian diberi nama Ba Cang. Sementara makanan tawar yang terbuat dari tepung ketan dan dibungkus

sama dinamainya dengan Kwe Cang. Dua makanan ini dilemparkan ke sungai. Kejadian ini menjadi upacara adat yang terus dilakukan dalam setiap perayaan pesta air orang Tionghoa.

Makanan bacang tidak haram sepanjang isinya bukan daging babi atau barang-barang yang diharamkan oleh Allah. Bacang juga tidak haram jika tidak dijadikan sebagai makanan yang dipersembahkan untuk jin, setan, atau thaghut-thagut yang dipertuhankan. Jika bacang memenuhi unsur keduanya, maka bacang adalah makanan yang diharamkan.

Sekian dulu info sejarahnya, semoga bermanfaat...!
____________________________________________________

Referensi: A.D. EL. Marzdedeq (2006), Parasit Aqidah, Syamil, Bandung, hlm: 18
READ MORE - Sekilas Tentang Sejarah Makanan BACANG atau BAKCANG

Saturday, September 14, 2013

Sejarah Awal Mula Masyarakat Arab Menjadi Penyembah Berhala

Apabila kita mengkaji kembali sejarah perjalanan Nabi Ibrahim 'alaihissalam beserta istri (Siti Hajar) dan anaknya (Isma'il 'alaihissalam) dalam memenuhi perintah Allah Subhaanahu wa Ta'ala untuk mendiami lembah Makkah yang tandus dan gersang, maka kita bisa mengambil kesimpulan bahwa mereka adalah orang-orang pertama yang secara menetap mendiami tempat tersebut. Berkat do'a nabi Ibrahim 'Alaihissalam yang dikabulkan Allah Subhaanahu wa Ta'ala, tempat yang dahulunya tandus dan gersang itu kemudian menjadi tempat subur dan penuh keberkahan, sehingga mengundang banyak orang untuk ikut diam di sana. Siti Hajar dan Ismail yang awal mulanya ditinggal sendirian Oleh Ibrahim 'alaihissalam di tempat itu, pada masa Ibrahim mengunjunginya kembali ternyata tempat itu sudah berubah jauh dari semula. Kini sudah banyak masyarakat yang ikut bermukim di sana. Ibn Katsir mengisahkan, bahwa orang yang pertama ikut mukim di sana adalah Keluarga Jurhum. Mereka tertarik untuk singgah dan menetap di sana lantaran tempat bermukimnya Siti Hajar dan Ismail yang subur dengan air zamzamnya. Keluarga nabi Ibrahim dari waktu ke waktu menjadi keluarga besar dengan melahirkan keturunan-keturunan yang sebagian besar dari mereka diangkat oleh Allah sebagai nabi-Nya.

Namun setelah masa-masa para nabi keturunan Ibrahim itu berlalu cukup lama, pergeseran peradaban dan kebudayaan tentunya tidak bisa dipungkiri lagi keberadaannya. Tanpa pembimbing yang benar, sebuah masyarakat akan terbawa arus pemikiran dan hasrat nafsu yang keliru, apa lagi jika di tengah-tengah mereka lahir seorang pemimpin yang berpengaruh terhadap mereka namun penuh kesesatan. Dan itu lah yang terjadi dengan masyarakat Arab Hijaz (Makkah).

Kelompok terkemudian yang menduduki kota Makkah adalah Bani Khaza'ah (keturunan/suku Khaza'ah). Khaza'ah merupakan kelompok pecahan dari kerajaan Saba. Mereka pergi dari Saba dan menetap di tengah kota Makkah sesaat setelah kerajaan Saba mengalami kehancuran. (lihat Ibn Katsir (2011), Mukhtashar Al Bidayah wa An Nihayah, Pustaka Azzam, Jakarta, hlm: 129).

Khaza'ah menguasai kota Makkah sampai kurang lebih 300 tahun. Pada masa kepemimpinan mereka itu lah masyarakat Makkah dibawa untuk menyembah berhala. Salah satu pemimpin dari kalangan mereka yang pertama kali mengajak masyarakat Makkah untuk menyembah berhala adalah Amru bin Luhayyi.

Amru bin Luhayyi merupakan pemimpin yang sangat kaya di Hijaz. Untuk menunjukkan kekayaannya ia pernah mencongkel mata 20 ekor unta, sebagai kebiasaan di kalangan mereka untuk menandakan bahwa dirinya memiliki 20.000 ekor unta jantan. Perkataan dan perbuatannya selalu menjadi syari'at yang harus diikuti dan dilaksanakan oleh masyarakatnya. Hal itu dikarenakan kemuliaan, kehormatan, dan kedudukannya di tengah-tengah kaumnya.

Pada suatu hari Amru bin Luhayyi membawa patung Hubal yang diletakkan di suatu tempat di Makkah. Kemudian ia memerintahkan semua manusia untuk menyembah dan mengagungkannya. Mulai saat itu bertebaran lah berbagai patung di Arab. (ibid. hlm:136-137)
READ MORE - Sejarah Awal Mula Masyarakat Arab Menjadi Penyembah Berhala